FEEDBACK PERKULIAHAN

"Sunday, 3 January 2016 20:21:33
Hanya nama mata kuliah saja MANAJEMEN Konstruksi. Ibu sebagai Dosen tidak bisa meMANAGE perkuiahan. Tugas tidak jelas. Hadir juga jarang. Di kelas hanya mengomel. Sungguh mengecewakan. Keputusan Ibu yg tidak jelas mengenai tugas akhir MK. Parah. Turun saja, Bu. Ibu tidak layak menjadi Dosen. Tidak hafal anak Didik. Bahkan baru sadar kalau Ibu dosen pengampu di 2 minggu terakhir perkuliahan. Parah parah parah. Mana hasil kuliah dan kebiasan disiplin dari Jepang? Ibu tidak bisa memberi contoh yang baik. Paraaaaah!!!!!!!!!!!!!!!! Astagfirullaah. Sungguh mengajar adalah sebuah amanat mulia. Tapi Ibu menjalankan dengan seenaknya."

Ketika proses perkuliahan usai, Dosen berkewajiban untuk memasukkan nilai ke dalam sistem input nilai dosen, sedangkan mahasiswa untuk bisa melihat nilai diwajibkan memberikan evaluasi pembelajaran.

Sekedar flashback 2005 saya bergabung dengan universitas tempat saya mengabdi, saya menjadi asisten dosen yang memegang MK RAB dan ManKon dari disiplin ilmu Sipil. Matakuliah ini memang lebih banyak mensyaratkan pengetahuan dan pengalaman di proyek, sehingga dianggap "matakuliah Sipil" 
Sebagai arsitek, berkecimpung di proyek fisik dari tahun 2004-2007 (setelah itu lebih banyak di pekerjaan perencanaan), ada perbedaan mendasar antara ilmu sipil dan arsitek dalam kacamata RAB dan MK, karena itulah saya mengusulkan untuk menjadikan 2 matakuliah ini di bawah naungan dosen arsitektur, bukan lagi dosen sipil. 
Resmi mulai 2007 RAB dan MK dipegang oleh dosen arsitektur, dan saya menjadi asisten matakuliah keduanya. Dalam kurun waktu 2005-2011 sebelum saya melanjutkan studi, praktis hanya seorang dosen senior dan saya yang memegang kedua MK ini untuk S1 pendidikan dan D3. Sampai kemudian dibantu dosen lain karena dibagi 2 kelas dan butuh jam yang panjang. entah kenapa ketika saya mengampu sekarang, hanya menjadi 1 kelas

Tahun 2015 ketika saya kembali dari tugas belajar, Departemen Pendidikan Teknik Arsitektur sudah memiliki tiga prodi, 2 prodi S1 murni dan pendidikan, serta D3. Dan saya ditugasi untuk memanajemeni prodi S1 murni. Juga, masih ditugaskan untuk mengampu MK ManKon pada prodi pendidikan. 

Kutipan di awal pembukaan di atas adalah komentar pada evaluasi pembelajaran MK Manajemen Konstruksi yang saya ampu bersama seorang kolega yang juga sedang melanjutkan studi S3 di kampus yang sama.
Kenapa penting kutipan itu saya bawa-bawa hingga extra membahasnya, karena 

1. Saya cukup terhenyak kualitas mahasiswa saya. Yang menulis adalah seorang mahasiswa, orang terpelajar yang mengerti cara menulis dengan baik dan benar, kalau tulisan seperti ini, kira-kira mungkin sedang pms atau patah cinta apa yak ?

2. Menilai seseorang, apakah itu rekan sejawat/teman, orang yang lebih tua, terlebih seorang guru bisa disampaikan dengan kalimat yang lebih santun. Terlebih di kampus tempat saya mengajar, mahasiswa jika bertemu salam cium tangan, dan jangan heran setiap kali sms kah, wa kah, atau masuk ruangan tebaran salam akan selalu didapat. 
Orang yang memberikan/mengucapkan salam, apalagi menjalankan sholat 5 waktu, memiliki ahlak seperti inikah? 

3. Sekarang kita ke substansi yang ingin disampaikan penulis, 
"Ibu sebagai Dosen tidak bisa meMANAGE perkuiahan. Tugas tidak jelas. Hadir juga jarang."
--> Dalam 1 departemen, terdapat share dosen karena SDM yang terbatas, sehingga perkuliahan diselenggarakan dengan dosen lintas prodi. Saya dengan tugas tambahan sebagai manajer prodi memiliki 25sks untuk 5 matakuliah (3matakuliah saya ampu hampir tanpa asisten yang memadai)

Seorang dosen dengan tugas tambahan, sewajarnya dibebankan max 8sks (normal dari 12sks) dan jatah saya adalah 25sks, itu kenapa saya jadi seperti dosen sakti,maafkan kalau anda diajar oleh dosen sakti, sakti menghilang :D Kalau anda protes, apalagi saya yang ngejalanin, nah... mumpung anda mahasiswa, ajukan juga complain ke universitas, minta tambahan SDM, yah... “;)”
Undangan rapat koordinasi, administrasi prodi bukan sesuatu yang bisa dihindari buat manajer prodi seperti saya, tanpa asisten yang memadai sudah hampir bisa dipastikan, kuliah akan terbengkalai. untungnya kok ya kalau saya tidak masuk kelas, bukan gara-gara sedang ngafe, juwalan kopi... karaokean atau sedang mroyek.

"Di kelas hanya mengomel. Sungguh mengecewakan. Keputusan Ibu yg tidak jelas mengenai tugas akhir MK. Parah. Turun saja, Bu. Ibu tidak layak menjadi Dosen." 
--> Terima kasih diingatkan, I wish nak... saya juga pengennya bisa milih mahasiswa yang mau diajarin bener. Menulis baik dan benar saja susah payah, mengatakan orang lain mengomel tapi komennya? berkata-kata atau mengomelkah? Mumpung saya ga ada hak jawab ya...hehe merdeka pan... mumpung anonim, selamet. 

" Tidak hafal anak Didik. Bahkan baru sadar kalau Ibu dosen pengampu di 2 minggu terakhir perkuliahan. Parah parah parah."
--> baru menginjakkan kaki kembali ke kampus, tidak lebih dari 3bulan dan tidak pernah bertemu setiap hari, memori ibu-ibu menjelang 40th memang semakin menurun untuk menghafal ratusan anak didik. maafkan ibumu yang sudah uzur ya nak... 
--> Seperti disinggung di atas, keterbatasan dosen tiap prodi, menyebabkan sebuah prodi "menyewa" dosen prodi lain, sayangnya tanpa kesepakatan, beban dosen sewaan ini melebihi beban di prodinya sendiri. untuk mengetahui di mana homebase seorang dosen, bisa dicek di sini 
http://forlap.dikti.go.id/prodi/detail/QUQxM0NCRUItRUVGQi00Qjg1LThGNkEtREMyRDcwMDg2ODU1. Kalau di swasta, nyewa dosen prodi lain itu dibayar per sks, di kita? dikata-katain mahasiswa, hehehe... nasip pisan

"Mana hasil kuliah dan kebiasan disiplin dari Jepang? Ibu tidak bisa memberi contoh yang baik. Paraaaaah!!!!!!!!!!!!!!!! "
--> ga usah bawa2 Jepang deh, paling Anda hanya tau dari cerita2 indah tentang Jepang, sok teu ah....
Di Jepang, siswa apalagi sudah kuliah itu mandiri, tidak pernah mengandalkan gurunya. Guru memberikan jalan dan target, caranya? cari sendiri dan kudu bisa. dulu...jaman saya kuliah, bikin 1 paper suruh baca artikel 100biji, dan baru selesai dalam 3 bulan.
Mahasiswa modal nulis kek dirimu yang clemotan nyuruh2 kasi contoh yang baik, pesimis dehhh bisa survive di Jepang ":p" 

Coba ke tulisanmu ni ya, hubungkan dengan kalimat sebelumnya antara "hafal anak didik dengan kebiasaan disiplin dari jepang" ":D" onde mandeeee.... 
Saya agak pesimis dengan kualitas orang-orang yang menulis tanpa inti kalimat yang jelas, lebih banyak caci makinya, jadi inget Om Jonru... ih, ternyata saya lagi diJonruin ":v"
Oya, jadi inget Jepang lagi, anak muda Jepang itu hormat sama senior, orang yang lebih tua, apalagi gurunya, mereka itu ga tau ayatnya di Al-Quran apalagi hadist nya looo. tapi kok aplikasinya ama yang sholat 5x sehari dan yang mengucap Assalamualaikum sehari bisa puluhan kali kok beda jauh sekali ya. 

"Astagfirullaah. Sungguh mengajar adalah sebuah amanat mulia. Tapi Ibu menjalankan dengan seenaknya."
--> noted, catatan buat saya. Anda berhak berkata, saya menerimanya ^ ^
maaf ya nak, kau kurang beruntung punya dosen seperti saya... semoga Allah menerima amalmu mengingatkan dosenmu yang tidak mulia ini. 

4. Komen ini amat sangat berarti buat saya, membuka mata dengan jelas, kualitas mahasiswa seperti apa yang harus saya hadapi. Terima kasih sekali lagi telah mengingatkan saya, ini buat saya, kalau ga gara-gara Anda, saya masih tetap lempeng dan manutan, mau2 ajah. Berkat Anda, saya jadi akan mengingat, jangan mau kalau dikasi sks berlebihan, jangan mau jadi pengampu disewa prodi lain.  
Sering-seringlah komplen, biar saya tidak diberi beban mengajar yang banyak, cape nak... gajinya sama aja kok ama yang sksnya sedikit ";)"

Kalau nanti sudah lulus, say hi ya kapan-kapan ke saya... semoga hidupmu penuh keberkahan. 

Bandung, 13 Januari 2016
Pagi-pagi buta setelah meng-upload nilai selesai 23:00 tadi trus kepikiran nulis ini ^^
Alhamdulillah akhirnya selesai setelah berhari-hari dugem (duduk gembul) mengkoreksi kerjaan mahasiswa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Going to Europe

WARNING, PERINGATAN, TEGURAN, REMINDER