BACK FOR GOOD (research?)
Back for good, yap after three and a half living as an alien, now i have to move back (for good) to my home country. nothing sentimentil, just feels like, this is not home. Home supposed to make us comfortable, and home is where we can find love unconditionally. (Kenapa introductionnya pake bule2 gini yak -_- mbuh lah, lagi sebel harap maklum!)
Newbie di jagat persilatan anggaran penelitian. mau ikutan nyoba ikut perang, biasanya cuman jadi anak buah, tau beres, blm tau kondisi nyata, mumupung lah, the less you know the better! Jadi ya cuman bismillah aja maju perang ini teh. Baru rasan-rasan, endonesa (belum INDONESIA) ini kapan mo bersaing terhormat maju berkualitas riset-riset yang bisa diaplikasikan. Gitu kok kebakaran jenggot ama Malaysia, tengok lah gimana negara tetangga itu memanage dana penelitian!
01:00 am, entah sudah berapa hari berkutat di RAB, pening deretan standar biaya. Belum nanti urusan laporan penelitian, baca di beberapa grup (fb) dosen ga jauh beda keluhannya, isinya akal-akalan pengeluaran. Dan yang paling mengenaskan duit negara yang keluar, apa manfaatnya? laporan berjilid ganjel pintu?
Kalau ga inget idealisme-idealismean pengen ilmu bermanfaat... ogah banget bikin riset, itu makanya juga dosen-dosen lebih enak ngelenong di luar (catatan: kalo ada yang ngajak ngelenong,hihi...), jelas manfaatnya, tinggal tanda tangan, ada yang dibawa pulang, ga ribet dokumentasi birocrazy :)
La ini? dari bikin proposalnya juga udah sakit perut.
Berapa % dari dosen-dosen peneliti bakal standing out loud bilang, melakukan riset demi idealime ilmu, kekekekkkk, nyuwun sewu... coba artikel ini dibaca, ngga cuman diriku yang bilang mengenaskannya kondisi penelitian di negara tercinta.
Teman saya yang termasuk 50 peneliti disegani se Indonesia Raya aja pas diskusi proposal riset ga cuman sinis, dia mengingatkan ini ntar urusannya sama KPK, kabareskim. Dia yang selevel itu aja sinis, lah daku....level 100 entah., hahaha... C'moooonnnn.... we are some kind of criminal here??? Beneran keterlaluan! se-kere itukah dosen-dosen di Indonesia, sampe kudu ngais-ngais -_- ga beda ama sekolah yang pas masa-masa UN pake dijaga polisi. that student is kinda criminal? doing test with a bunch of police outside???
*okeeeyy akhirnya diriku aku berkata2 tentang negara yang gemah ripah loh jinawi tapi luar biasa ajaib inih, temanku berkata paling aku tahan 6 bulan untuk tidak mengumpat, hahahaha it just 2 months after i back home, for good. yap for goooooodddd. bari nyengir
Negara ini tidak mendudukkan posisi (profesi) seserorang dengan seharusnya dari awal dengan baik, semua serba ditakut-takuti, diawasi dengan ancaman, tekanan, hanya untuk "mendisiplinkan atau mengkondisikan" sesuatu yang seharusnya secara otomatis tidak perlu dikondisikan.
Artinya, ya... dosen itu sudah sewajarnya meneliti, berhak mendapatkan dana penelitian selayaknya dan wajib menyumbangkan hasil penelitian utk kemaslahatan masyarakat.
Itu adalah normatif fungsi seorang dosen dalam frame tri darmanya. Tapi tidak!! Orang baru merasa HARUS berbuat yang semestinya tanggung jawab dan kewajibannya KALAU diancam, ditakut-takuti. Ya jadi, jangan heran kalau semua kelakuan dan prilaku mayoritas warga negara ini ya berbuat semestinya belum karena kesadaran, semua aspek, semua lini gampang banget nyari contohnya -_-.
Dengan pendapatan yang ngepas, tuntutan tinggi, kinerja harus prima? duit penelitian ga ubahnya menambal hutang sana sini :p *kind of cynical, hehehe...that's the reality. Toh dosen-dosen yang sudah memiliki jam terbang "meneliti" (nyuwun sewu dengan berat hati saya kasi tanda kutip, karena sebenernya bukan neliti tapi nyari sampingan :D) coba silahkan baca tulisannya, ga usah jauh-jauh manfaatnya (yang biasanya akan berakhir di tukang kiloan), googling aja namanya, syukur banget kalau list pertama bukan profil facebook :p. Duuuhhh, beneran pms berat nih aku,hahahaha.... suka sebel yang pada dapat dana riset itu, pada dikemanain hasilnya?
Apa pada ga tau kondisi ini? tauuuuu semua juga ngerti, yang ngga ada cuma kepedulian untuk mengembalikan ke posisi yang seharusnya. Dosen tidak dihargai berdasarkan kapabilitasnya, kompetensinya, dosen masih dinilai berdasarkan dokumen-dokumen berjajar-jajar rapi entah apa isinya dan entah apa manfaatnya.
Sistem memaksa dosen-dosen menjadi abu nawas yang "cerdik" lihai mengatur laporan.
Okehhhh sekarang aku akan ambil bagian, ikutan perang, bismillah ikutan untuk berbuat, ga cuman ngomel-ngomel NATO. Aku butuh duit penelitian buat beli alat ukur, butuh ngukur buat ngasi rekomendasi para perencana kawasan (based on research bener!) biar kebijakannya itu implementatif, ngga ngawang-ngawang mulu. Dan yang jelas butuh duit buat bayar orang yang ngukur-ngukur itu.
Semoga Allah mengijabah, aamiin.
Bandung, 29 Juli 2015
Ketika ndongkol hanya sekedar bikin proposal penelitian
Kangen ketika neliti ga perlu mikir alat ukur, ada duit yang siap ditagih ketika penelitian kelar tanpa bikin proposal. Setahun sekali bisa menyeminarkan hasil penelitian ke ujung dunia sekalipun di support. owhh...itu pan jaman di Jepang :DDD
Newbie di jagat persilatan anggaran penelitian. mau ikutan nyoba ikut perang, biasanya cuman jadi anak buah, tau beres, blm tau kondisi nyata, mumupung lah, the less you know the better! Jadi ya cuman bismillah aja maju perang ini teh. Baru rasan-rasan, endonesa (belum INDONESIA) ini kapan mo bersaing terhormat maju berkualitas riset-riset yang bisa diaplikasikan. Gitu kok kebakaran jenggot ama Malaysia, tengok lah gimana negara tetangga itu memanage dana penelitian!
01:00 am, entah sudah berapa hari berkutat di RAB, pening deretan standar biaya. Belum nanti urusan laporan penelitian, baca di beberapa grup (fb) dosen ga jauh beda keluhannya, isinya akal-akalan pengeluaran. Dan yang paling mengenaskan duit negara yang keluar, apa manfaatnya? laporan berjilid ganjel pintu?
Kalau ga inget idealisme-idealismean pengen ilmu bermanfaat... ogah banget bikin riset, itu makanya juga dosen-dosen lebih enak ngelenong di luar (catatan: kalo ada yang ngajak ngelenong,hihi...), jelas manfaatnya, tinggal tanda tangan, ada yang dibawa pulang, ga ribet dokumentasi birocrazy :)
La ini? dari bikin proposalnya juga udah sakit perut.
Berapa % dari dosen-dosen peneliti bakal standing out loud bilang, melakukan riset demi idealime ilmu, kekekekkkk, nyuwun sewu... coba artikel ini dibaca, ngga cuman diriku yang bilang mengenaskannya kondisi penelitian di negara tercinta.
Teman saya yang termasuk 50 peneliti disegani se Indonesia Raya aja pas diskusi proposal riset ga cuman sinis, dia mengingatkan ini ntar urusannya sama KPK, kabareskim. Dia yang selevel itu aja sinis, lah daku....level 100 entah., hahaha... C'moooonnnn.... we are some kind of criminal here??? Beneran keterlaluan! se-kere itukah dosen-dosen di Indonesia, sampe kudu ngais-ngais -_- ga beda ama sekolah yang pas masa-masa UN pake dijaga polisi. that student is kinda criminal? doing test with a bunch of police outside???
*okeeeyy akhirnya diriku aku berkata2 tentang negara yang gemah ripah loh jinawi tapi luar biasa ajaib inih, temanku berkata paling aku tahan 6 bulan untuk tidak mengumpat, hahahaha it just 2 months after i back home, for good. yap for goooooodddd. bari nyengir
Negara ini tidak mendudukkan posisi (profesi) seserorang dengan seharusnya dari awal dengan baik, semua serba ditakut-takuti, diawasi dengan ancaman, tekanan, hanya untuk "mendisiplinkan atau mengkondisikan" sesuatu yang seharusnya secara otomatis tidak perlu dikondisikan.
Artinya, ya... dosen itu sudah sewajarnya meneliti, berhak mendapatkan dana penelitian selayaknya dan wajib menyumbangkan hasil penelitian utk kemaslahatan masyarakat.
Itu adalah normatif fungsi seorang dosen dalam frame tri darmanya. Tapi tidak!! Orang baru merasa HARUS berbuat yang semestinya tanggung jawab dan kewajibannya KALAU diancam, ditakut-takuti. Ya jadi, jangan heran kalau semua kelakuan dan prilaku mayoritas warga negara ini ya berbuat semestinya belum karena kesadaran, semua aspek, semua lini gampang banget nyari contohnya -_-.
Dengan pendapatan yang ngepas, tuntutan tinggi, kinerja harus prima? duit penelitian ga ubahnya menambal hutang sana sini :p *kind of cynical, hehehe...that's the reality. Toh dosen-dosen yang sudah memiliki jam terbang "meneliti" (nyuwun sewu dengan berat hati saya kasi tanda kutip, karena sebenernya bukan neliti tapi nyari sampingan :D) coba silahkan baca tulisannya, ga usah jauh-jauh manfaatnya (yang biasanya akan berakhir di tukang kiloan), googling aja namanya, syukur banget kalau list pertama bukan profil facebook :p. Duuuhhh, beneran pms berat nih aku,hahahaha.... suka sebel yang pada dapat dana riset itu, pada dikemanain hasilnya?
Apa pada ga tau kondisi ini? tauuuuu semua juga ngerti, yang ngga ada cuma kepedulian untuk mengembalikan ke posisi yang seharusnya. Dosen tidak dihargai berdasarkan kapabilitasnya, kompetensinya, dosen masih dinilai berdasarkan dokumen-dokumen berjajar-jajar rapi entah apa isinya dan entah apa manfaatnya.
Sistem memaksa dosen-dosen menjadi abu nawas yang "cerdik" lihai mengatur laporan.
Okehhhh sekarang aku akan ambil bagian, ikutan perang, bismillah ikutan untuk berbuat, ga cuman ngomel-ngomel NATO. Aku butuh duit penelitian buat beli alat ukur, butuh ngukur buat ngasi rekomendasi para perencana kawasan (based on research bener!) biar kebijakannya itu implementatif, ngga ngawang-ngawang mulu. Dan yang jelas butuh duit buat bayar orang yang ngukur-ngukur itu.
Semoga Allah mengijabah, aamiin.
Bandung, 29 Juli 2015
Ketika ndongkol hanya sekedar bikin proposal penelitian
Kangen ketika neliti ga perlu mikir alat ukur, ada duit yang siap ditagih ketika penelitian kelar tanpa bikin proposal. Setahun sekali bisa menyeminarkan hasil penelitian ke ujung dunia sekalipun di support. owhh...itu pan jaman di Jepang :DDD

Komentar