SENSEI MARAH
Hari Selasa, selalu jadi hari yang paling menyebalkan. Jam 9 tet sudah harus menaruh pantat di ruang meeting lab, dalam Bahasa Jepang kami menyebutnya zemi, serapan dari Bahasa Inggris, seminar.
Kenapa menyebalkan, hehehe sudah dari Juni, semenjak saya pamit nulis thesis diijinkan 'bolos' zemi sampai lulus September kemarin. Oktober mulai masuk lagi, status sudah ganti jadi periset, sebenernya lebih tinggi statusnya sih...la wong post-doc researcher *tapi dapet duit kalo proyeknya kelar, buwahahaha (pasang status idle _ _'')
Tapi ya sudah, aturan tetap aturan, saya walo mak2 dengan 2 kunyil yang setiap pagi gedubrakan, dari bangunin sholat subuh, nyuruh mandi, motong2 bawang-sayur, plung2 nyulap jadi sarapan, sambil teriak2 ngingetin waktu. sekarang sudah mulai winter, si unyil itu seneng banget mandi sambil nyanyi2 di bawah shower anget, duileeee bayar air jeung gas !! Lanjut nyiapin bento buat dibawa sekolah, belum termasuk darting kalo ada PR ato hapalan si unyil laki yang belum selese, Aaaarrrggghhhh....
Jam 7.45, anak-anak siap turun dari danchi (rusun Jepang), salim, cium, ngingetin doa sambil turun tangga termasuk kata2 mutiara bla bla bla... saya melihat dari balkon lantai 4 atas, anak2 jalan sendiri, menempuh sekitar 1,5km ke sekolah. Begitu anak berangkat, rumah juga sudah harus bersih, panci, wajan, belum lantai dapur semua bersih sebelum ditinggal pergi.
Maknya langsung lari siap2, set set set...siap berangkat, diantar sopir ganteng, hahaha curang! (kadang2 juga jadi ndoro kakung kok, si sopir ganteng teh ;)
Masuk ruang meeting, alhamdulillah belon telat. sudah sebulan ini sebenernya sensei selalu mengeluhkan anak2 lab yang datang telat. Oya, lab saya ini ada 18 orang student, tambah saya yang mantan student jadi ada 19 orang, dan Japanese nya sekarang 'hanya' 8 orang, artinya hanya 40% dari total member lab. Merunut ke belakang 2011 jaman saya masuk ke lab ini, dari 19orang member, hanya 3 orang asing, saya dan 2 mahasiswa dari China, tambahan lagi saya satu-satunya mahluk yang ga bisa ngerti Nihongo (basa Jepang). Hingga 2,5 tahun saya lampaui zemi yang full Japanese, jangankan tahu apa yang mereka bahas, setiap zemi paling ngerti sebiji dua biji kosakata. Ini memaksa telinga saya untuk selalu stand-by, mencatat setiap kegiatan lab yang sensei bicarakan dalam lab. Melatih kecepatan screening, bahasa tubuh sensei, mimik sensei dan semua reaksi sensei terhadap peserta zemi, juga termasuk melihat mahasiswa2 jepang ini, intinya serba-serbi muamalah mahasiswa dengan gurunya dan sebaliknya. Selama dua tahun itupula saya belajar 'nihongo' secara terpaksa, boro2 ada yang diajak ngomong Bahasa Indonesia, nyari orang ngomong Bahasa Inggris aja langka banget. (hehehe...salahnya sekolah di desa :p)
Blessing in disguise, iso jalaran seko kepekso :p (bisa karena terpaksa) lumayan laaahh mengantar ke nihongo level tiarap sekarang ini, dan selalu disangka sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Jepang, ffffhhhh... ini sih bonus jadi orang Jowo, pronounce a-i-u-e-o sama kek Jepang. coba diajak ngomong advance dikit, paling cuma ceng-ceng po (cengar-cengir po-o,hahahaha)
Tapi ternyata perubahan itu cepat sekali, belum sampe saya lulus, setahun setelah saya masuk, program 'environmental leadership di bawah SUW (sustainable use of water and resources)' yang saya ikuti mulai dipenuhi orang asing, Uzbekistan, Samoa, Bangladesh, Philipina, yang mereka lebih ngenes nihongonya, bahkan zero,hehehe. . Mulailah support center, mesin2 kartu mahasiswa 'agak internasional' ada basa inggrisnya euy!! lumayan lah bernafas dikit, ga tiap hari baca tulisan keriting. Tapi itu kan fakultas, bukan di lab :p jadi ya sehari2 saya masih harus berjuang merangkai kosa kata demi kosakata beserta konjungsi dan kata kerja pengganti. ZzzzZZzzz..... Inilah salahnya sekolah di negara non english, tanpa belajar bahasa mereka dulu (belajar ding, 4bulan doang, cuman bisa buat ke warung,hahahaha)
Alhamdulillahnya sensei saya menguasai Bahasa Inggris dengan baik dan benar, orangnya Jepang bianget (hihi la ya lah wong ya WNJ) beliau hanya berbicara dengan saya dengan Bahasa Inggris di luar zemi, jika diskusi riset saya. Kalau di zemi?? ya lupakan beliau mau ngemeng engres :p
saya kudu tau beliau bilang apa, merintah apaan juga ngumumin apaan. Selama saya jadi lab member beliau, saya tidak pernah melihat beliau marah, apalagi bernada tinggi. Kalaupun beliau kecewa dengan presentasi riset anak2 undergraduate ama master, hanya roman mukanya yang berubah, dan paling bilang, ''hmm..daijoubu kana, dou shou kana'' (gapapa gitu? -nada watir ttg risetnya itu ok/ga, trus enaknya gmn yaaa). Oya, di Jepang, anak2 undergraduate tahun ke-4 mulai masuk lab, artinya mereka sudah dipandang mampu studi mandiri melakukan riset dan desain dengan target yang jelas.
Lab saya ini di jurusan arsitektur, bidangnya lebih spesifik ke fisika bangunan dan kota, menyangkut material, kenyamanan thermal, yang hasil akhirnya desain yang optimal sesuai iklim setempat. Sejak setahun belakangan beliau belajar tentang parametrik, semua anak2nya juga disuruh belajar makanan alogaritma itu. Fffhhh otak yang pas2an kemaren disuruh belajar parametric city sudah mau meletup rasanya :'(
Kembali tentang sensei, buat anak2 B (istilah undergraduate dari bachelor) atau anak M (master) beliau itu hampir tidak pernah mentargetkan ini itu, hanya perintah belajar ini, ngukur ini itu. Dan bisa ditebak, anak Jepang yang seumur hidup menghabiskan masa hidupnya terorder, terarah dan terjadual, semua berjalan baik2 saja.
Sampai lab kami mulai kedatangan para mahasiswa asing, kebanyakan China pastinya, mereka 7orang, 1 vietnam dan kami Indonesian ber 3. belum lagi anak2 exchange student yang suka bergantian datang ada yang dari China, Malaysia, Indonesia juga Thailand, jadilah secara resmi lab kami mulai diduduki orang asing :D dan jelas.... ada infiltrasi budaya, prilaku yang jelas tidak lagi 'njepangi'.
Selasa kemaren adalah seumur hidup jadi member lab melihat sensei marah. Sensei menegur anggota lab, anak master mengikuti sayembara, dari 6 orang hanya 1 yang hadir untuk presentasi desain, dan itu satu-satunya yang anak Jepang, 5 lainnya murid asing. yaddaaa ne... mulailah sensei mengintrogasi satu persatu, kenapa tidak hadir. beliau amat kecewa, jarang saya lihat beliau mengeluarkan statement kekecewaan, karena yang mengecewakan anak asing yang notabene buta nihongo, beliau berkata-kata dalam bahasa Inggris, itupun masih bahasa standar, dan nada yang biasa, hanya kata-kata ''unbelievable'' bolak balik keluar. Kebayang kalau itu posisi saya, mengikutsertakan mahasiswa dalam sayembara, pada hari H hanya seorang dalam grup yang hadir untuk presentasi, sungguh memalukan buat gurunya!!! Dan saya tau itu tidak pernah terjadi dalam karirnya sebagai seorang sensei. Duuhhh!
Dua minggu lalu beliau sebetulnya juga sudah mulai 'menembak' anak2 lab, terutama anak2 Jepang yang setiap zemi selalu datang terlambat, sensei bilang, kalau anak Jepang itu kudunya punya attitude yang baik bisa jadi contoh (buat murid2 asing), tidak terlambat. Saya yang kebetulan duduk di antara anak2 B4 itu jadilah kena tembak juga, sensei bilang (dalam Bahasa Jepang), senpai (senior) itu kudunya lebih jadi conto buat juniornya. wekksss, tepatlah itu dialamatkan ke diriku, senior secara defacto umur dan tingkat studi _ _!
yah, sebenernya saya mulai telat dateng zemi teng ontime, setelah lulus, padahal kalau jaman kejar2an kelulusan itu jam 8 biasa berangkat bareng anak2 sekolah, jam 8.15 sudah nangkring cantik di lab, jadi tiap hari selalu datang paling pagi, dan pulang pagi juga, besoknya maksudnya :'( Satpam juga saking apalnya diriku kuncen sejati, tau nama dan ruanganku.
jadi deh..setelah lulus, saya agak molor, hihihi lebih tepatnya saya malas pelajaran membaca text Bahasa Inggris setiap awal zemi (selama 1jam) untuk anak2 Jepang biar Bahasa Inggrisnya lebih lancar. Yap... kaya jaman saya SMP dulu melatih pronunciation. Belagulah saya untuk pelajaran yang amat sangat tak penting ini, ffhhh...presentasi sudah sampe belahan dunia mana-mana kok masih disuruh merapal. Terus sensei harus bilang wow gitu :p ya engga! menurut dia, tidak ada yang wow kalau saya tidak memberikan contoh yang sepantasnya. Menurut beliau, percuma kinerja ok, tapi ga dibarengi dengan teladan yang baik. Seseorang tu harus ada impact ke sekitarnya. cleguk! itu sih mak jleb bingits. Dan mulailah lagi ritual 9 pagi setiap selasa.
Selintas teringat tempat saya hidup saya selama 33 tahun yang lalu (itu karena 3th nya saya di sini, jadi jangan salah umur saya ya :D) ini mo bilang Indonesia aja susah amat, hihi
Semakin senior, justru semakin banyak 'toleransi' yang diberikan, artinya, karena sudah di posisi atas, sudah selazimnya (bukan selayaknya ya!) yang lebih muda mentolerir yang tua.
Toleransi sebenernya malah maknanya jadi negatif, kalau telat ya dimaafkan, kalau ga hadir di rapat/sidang tanpa pemberitahuan ya gpp, wong namanya juga sudah tua (sori senior :p), belum lagi kalo dapet angpo, (dianggap) sudah semestinya senior itu mendapat jatah paling banyak, hiks sayangnya itu logika yang dipakai karena senioritas. Sudah jelas jarang dateng, kagak rajin, kok ya angpaw bisa2nya paling gede _ _! bukannya harusnya dia menghibahkan angpaw itu untuk yang muda-muda yang lebih banyak kerja.
Apalagi kalau mulai muncul kata-kata mutiara ''Gusti Allah boten sare'', hahaha....artinya junior (harus ikhlas) kerja rodi, toh dulu senior juga mengalami itu, mo siang malem dapet angpo seiprit, ga usah iri ama yang senior kagak kerja, tapi angpo mengalir lancar, hahaha *bukan mringis lagi ini mah, mrongos!
Jadi pelajaran yang bisa saya petik dari kemarahan sensei kemarin adalah didikan dan teladan, itu ga bisa dipisahkan.
Kenapa kalau anak Jepang itu cukup diberitahu sekali dia akan mengerti, kalaupun mengecewakan, mereka bisa dan akan berulang-ulang minta maaf, tanpa harus membuat sensei marah? Ini tidak lepas dari pendidikan Jepang yang mengedepankan perilaku dan perbuatan sebagai landasan dasar sejak TK, bukan kognitif semata. Dan jangan lupa contoh nyata sehari-harinya juga ada di mana-mana.
Seperti sensei saya, beliau sebagai panutan memberikan contoh yang sepatutnya. Jaman saya sering pulang pagi karena kejar tayang, senseipun demikian.
Lampu ruangannya sering terlihat menyala hingga jam 2 pagi, dan ketika paginya lagi jam 9, beliau sudah di kelas mengajar, itupun masih sempet jogging pagi-pagi...huwaaa lemaaaak mana lemak (lirik tumpukan kaloriku di mana2 _ _!!)
Kerja keras, kebiasaaan dengan tindakan sepele sehari-hari dengan konsisten, bukan nyuruh-nyuruh apalagi ngomel-ngomel (hehehe nyengir sendiri), kalau contohnya udah kaya gitu, boro-boro sempet ngeluh sana-sini, saya cuma sibuk bisa bikin beliau senyum dikit aja, puas dengan kerjaan saya.
Oya, lupa di Jepang itu, Tokyo memang masih pusat acuan, tapi dari sekolah dasar desain dan standar pendidikannya sama sampe ke pelosok desa. Jadi baik perilaku, teknologi maupun kebiasaan dari ujung Jepang atas yang salju berpuluh2 senti kaya Sapporo dan Hokaido sampe ke Kyushu bagian bawah yang agak sumuk itu ya bisa dibilang 11-12 kondisinya, kek desaku ini di Kitakyushu. *ih koreksi, Kitakyushu kagak desa lagi, salah satu pioneer eco-city melek se-Jepang, teknologi penanganan lingkungan juga paling terkenal se-Jepang ada di sini, cuma ya emang kampusku yang super high-tech itu di negara antah berantah,hahaha....
Pegawe pemerintah, juga guru2 termasuk dosen, bisa berputar mengelilingi Jepang, bisa dipromosikan (atau permintaan) sesuai kinerjanya untuk mendorong daerah-daerah yang sekiranya kurang sejajar dengan daerah lain. Jadi pemerataan kualitas di Jepang ini kerasa banget (panjang deh kalo diceritain, mudah2an bisa ditulis lain kali). Kalo masalah gajinya saya sih belum tau,hehehe... mungkin ini ide bagus, kek di Indonesia yang punya 17.502 pulau, 510 kota. kayanya seumur hidup jadi PNS macem saya ini blm tentu bisa mengelilingi semua kota apalagi pulau.
Hmmm.... membayangkan saya pulang dan mengajar lagi, dengan murid yang dididik beragam rupa dari rumah, belum pula sekolah yang amat sangat beragam standarnya. Pernah ditanya jaman nglamar jadi guru dulu, tau gajinya seuprit kerjaan banyak belon makan ati ngurusin anak orang (hihi...halo mahasiswa, jangan suka bikin susah gurunya yahhh) saya jawab, ada 2 jalan yang memiliki kontribusi besar dalam islah. (islah = membuat lebih baik, meningkatkan dari sebelumnya) ini hasil baca buku tapi lupa judulnya,hehehe.... yang pertama dokter, diberi ilmu untuk berhub dengan perbaikan fisik, yang ke dua guru... dengan ilmunya, memberikan pengetahuan untuk perbaikan masa depan. Nah itu alasan utama saya jaman dulu (sampe sekarang sih) mo jadi guru, berhub sudah jelas ga bisa jadi dokter,hahaha.....
Na..guru pun kan banyak ragamnya ga kudu yang resmi kaya saya yang ada capnya. semua orang bisa jadi guru untuk orang lain, begitu juga kita2 juga selalu bisa jadi murid untuk guru manapun.
Yah kudu banyak-banyak belajar psikologi pendidikan biar mumpuni menularkan ke anak didik, ilmu dan etika itu selevel, semakin tinggi ilmu seseorang sudah seharusnya semakin tinggi etikanya (baca: ahlak)
Yang penting, jadi guru itu digugu (diikuti) dan ditiru (dicontoh) apa sudah layak.
Menjelang hari pahlawan: Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Kitakyushu, 5 November 2014
Mulai masuk winter 10derajat tiap pagi
Kenapa menyebalkan, hehehe sudah dari Juni, semenjak saya pamit nulis thesis diijinkan 'bolos' zemi sampai lulus September kemarin. Oktober mulai masuk lagi, status sudah ganti jadi periset, sebenernya lebih tinggi statusnya sih...la wong post-doc researcher *tapi dapet duit kalo proyeknya kelar, buwahahaha (pasang status idle _ _'')
Tapi ya sudah, aturan tetap aturan, saya walo mak2 dengan 2 kunyil yang setiap pagi gedubrakan, dari bangunin sholat subuh, nyuruh mandi, motong2 bawang-sayur, plung2 nyulap jadi sarapan, sambil teriak2 ngingetin waktu. sekarang sudah mulai winter, si unyil itu seneng banget mandi sambil nyanyi2 di bawah shower anget, duileeee bayar air jeung gas !! Lanjut nyiapin bento buat dibawa sekolah, belum termasuk darting kalo ada PR ato hapalan si unyil laki yang belum selese, Aaaarrrggghhhh....
Jam 7.45, anak-anak siap turun dari danchi (rusun Jepang), salim, cium, ngingetin doa sambil turun tangga termasuk kata2 mutiara bla bla bla... saya melihat dari balkon lantai 4 atas, anak2 jalan sendiri, menempuh sekitar 1,5km ke sekolah. Begitu anak berangkat, rumah juga sudah harus bersih, panci, wajan, belum lantai dapur semua bersih sebelum ditinggal pergi.
Maknya langsung lari siap2, set set set...siap berangkat, diantar sopir ganteng, hahaha curang! (kadang2 juga jadi ndoro kakung kok, si sopir ganteng teh ;)
Masuk ruang meeting, alhamdulillah belon telat. sudah sebulan ini sebenernya sensei selalu mengeluhkan anak2 lab yang datang telat. Oya, lab saya ini ada 18 orang student, tambah saya yang mantan student jadi ada 19 orang, dan Japanese nya sekarang 'hanya' 8 orang, artinya hanya 40% dari total member lab. Merunut ke belakang 2011 jaman saya masuk ke lab ini, dari 19orang member, hanya 3 orang asing, saya dan 2 mahasiswa dari China, tambahan lagi saya satu-satunya mahluk yang ga bisa ngerti Nihongo (basa Jepang). Hingga 2,5 tahun saya lampaui zemi yang full Japanese, jangankan tahu apa yang mereka bahas, setiap zemi paling ngerti sebiji dua biji kosakata. Ini memaksa telinga saya untuk selalu stand-by, mencatat setiap kegiatan lab yang sensei bicarakan dalam lab. Melatih kecepatan screening, bahasa tubuh sensei, mimik sensei dan semua reaksi sensei terhadap peserta zemi, juga termasuk melihat mahasiswa2 jepang ini, intinya serba-serbi muamalah mahasiswa dengan gurunya dan sebaliknya. Selama dua tahun itupula saya belajar 'nihongo' secara terpaksa, boro2 ada yang diajak ngomong Bahasa Indonesia, nyari orang ngomong Bahasa Inggris aja langka banget. (hehehe...salahnya sekolah di desa :p)
Blessing in disguise, iso jalaran seko kepekso :p (bisa karena terpaksa) lumayan laaahh mengantar ke nihongo level tiarap sekarang ini, dan selalu disangka sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Jepang, ffffhhhh... ini sih bonus jadi orang Jowo, pronounce a-i-u-e-o sama kek Jepang. coba diajak ngomong advance dikit, paling cuma ceng-ceng po (cengar-cengir po-o,hahahaha)
Tapi ternyata perubahan itu cepat sekali, belum sampe saya lulus, setahun setelah saya masuk, program 'environmental leadership di bawah SUW (sustainable use of water and resources)' yang saya ikuti mulai dipenuhi orang asing, Uzbekistan, Samoa, Bangladesh, Philipina, yang mereka lebih ngenes nihongonya, bahkan zero,hehehe. . Mulailah support center, mesin2 kartu mahasiswa 'agak internasional' ada basa inggrisnya euy!! lumayan lah bernafas dikit, ga tiap hari baca tulisan keriting. Tapi itu kan fakultas, bukan di lab :p jadi ya sehari2 saya masih harus berjuang merangkai kosa kata demi kosakata beserta konjungsi dan kata kerja pengganti. ZzzzZZzzz..... Inilah salahnya sekolah di negara non english, tanpa belajar bahasa mereka dulu (belajar ding, 4bulan doang, cuman bisa buat ke warung,hahahaha)
Alhamdulillahnya sensei saya menguasai Bahasa Inggris dengan baik dan benar, orangnya Jepang bianget (hihi la ya lah wong ya WNJ) beliau hanya berbicara dengan saya dengan Bahasa Inggris di luar zemi, jika diskusi riset saya. Kalau di zemi?? ya lupakan beliau mau ngemeng engres :p
saya kudu tau beliau bilang apa, merintah apaan juga ngumumin apaan. Selama saya jadi lab member beliau, saya tidak pernah melihat beliau marah, apalagi bernada tinggi. Kalaupun beliau kecewa dengan presentasi riset anak2 undergraduate ama master, hanya roman mukanya yang berubah, dan paling bilang, ''hmm..daijoubu kana, dou shou kana'' (gapapa gitu? -nada watir ttg risetnya itu ok/ga, trus enaknya gmn yaaa). Oya, di Jepang, anak2 undergraduate tahun ke-4 mulai masuk lab, artinya mereka sudah dipandang mampu studi mandiri melakukan riset dan desain dengan target yang jelas.
Lab saya ini di jurusan arsitektur, bidangnya lebih spesifik ke fisika bangunan dan kota, menyangkut material, kenyamanan thermal, yang hasil akhirnya desain yang optimal sesuai iklim setempat. Sejak setahun belakangan beliau belajar tentang parametrik, semua anak2nya juga disuruh belajar makanan alogaritma itu. Fffhhh otak yang pas2an kemaren disuruh belajar parametric city sudah mau meletup rasanya :'(
Kembali tentang sensei, buat anak2 B (istilah undergraduate dari bachelor) atau anak M (master) beliau itu hampir tidak pernah mentargetkan ini itu, hanya perintah belajar ini, ngukur ini itu. Dan bisa ditebak, anak Jepang yang seumur hidup menghabiskan masa hidupnya terorder, terarah dan terjadual, semua berjalan baik2 saja.
Sampai lab kami mulai kedatangan para mahasiswa asing, kebanyakan China pastinya, mereka 7orang, 1 vietnam dan kami Indonesian ber 3. belum lagi anak2 exchange student yang suka bergantian datang ada yang dari China, Malaysia, Indonesia juga Thailand, jadilah secara resmi lab kami mulai diduduki orang asing :D dan jelas.... ada infiltrasi budaya, prilaku yang jelas tidak lagi 'njepangi'.
Selasa kemaren adalah seumur hidup jadi member lab melihat sensei marah. Sensei menegur anggota lab, anak master mengikuti sayembara, dari 6 orang hanya 1 yang hadir untuk presentasi desain, dan itu satu-satunya yang anak Jepang, 5 lainnya murid asing. yaddaaa ne... mulailah sensei mengintrogasi satu persatu, kenapa tidak hadir. beliau amat kecewa, jarang saya lihat beliau mengeluarkan statement kekecewaan, karena yang mengecewakan anak asing yang notabene buta nihongo, beliau berkata-kata dalam bahasa Inggris, itupun masih bahasa standar, dan nada yang biasa, hanya kata-kata ''unbelievable'' bolak balik keluar. Kebayang kalau itu posisi saya, mengikutsertakan mahasiswa dalam sayembara, pada hari H hanya seorang dalam grup yang hadir untuk presentasi, sungguh memalukan buat gurunya!!! Dan saya tau itu tidak pernah terjadi dalam karirnya sebagai seorang sensei. Duuhhh!
Dua minggu lalu beliau sebetulnya juga sudah mulai 'menembak' anak2 lab, terutama anak2 Jepang yang setiap zemi selalu datang terlambat, sensei bilang, kalau anak Jepang itu kudunya punya attitude yang baik bisa jadi contoh (buat murid2 asing), tidak terlambat. Saya yang kebetulan duduk di antara anak2 B4 itu jadilah kena tembak juga, sensei bilang (dalam Bahasa Jepang), senpai (senior) itu kudunya lebih jadi conto buat juniornya. wekksss, tepatlah itu dialamatkan ke diriku, senior secara defacto umur dan tingkat studi _ _!
yah, sebenernya saya mulai telat dateng zemi teng ontime, setelah lulus, padahal kalau jaman kejar2an kelulusan itu jam 8 biasa berangkat bareng anak2 sekolah, jam 8.15 sudah nangkring cantik di lab, jadi tiap hari selalu datang paling pagi, dan pulang pagi juga, besoknya maksudnya :'( Satpam juga saking apalnya diriku kuncen sejati, tau nama dan ruanganku.
jadi deh..setelah lulus, saya agak molor, hihihi lebih tepatnya saya malas pelajaran membaca text Bahasa Inggris setiap awal zemi (selama 1jam) untuk anak2 Jepang biar Bahasa Inggrisnya lebih lancar. Yap... kaya jaman saya SMP dulu melatih pronunciation. Belagulah saya untuk pelajaran yang amat sangat tak penting ini, ffhhh...presentasi sudah sampe belahan dunia mana-mana kok masih disuruh merapal. Terus sensei harus bilang wow gitu :p ya engga! menurut dia, tidak ada yang wow kalau saya tidak memberikan contoh yang sepantasnya. Menurut beliau, percuma kinerja ok, tapi ga dibarengi dengan teladan yang baik. Seseorang tu harus ada impact ke sekitarnya. cleguk! itu sih mak jleb bingits. Dan mulailah lagi ritual 9 pagi setiap selasa.
Selintas teringat tempat saya hidup saya selama 33 tahun yang lalu (itu karena 3th nya saya di sini, jadi jangan salah umur saya ya :D) ini mo bilang Indonesia aja susah amat, hihi
Semakin senior, justru semakin banyak 'toleransi' yang diberikan, artinya, karena sudah di posisi atas, sudah selazimnya (bukan selayaknya ya!) yang lebih muda mentolerir yang tua.
Toleransi sebenernya malah maknanya jadi negatif, kalau telat ya dimaafkan, kalau ga hadir di rapat/sidang tanpa pemberitahuan ya gpp, wong namanya juga sudah tua (sori senior :p), belum lagi kalo dapet angpo, (dianggap) sudah semestinya senior itu mendapat jatah paling banyak, hiks sayangnya itu logika yang dipakai karena senioritas. Sudah jelas jarang dateng, kagak rajin, kok ya angpaw bisa2nya paling gede _ _! bukannya harusnya dia menghibahkan angpaw itu untuk yang muda-muda yang lebih banyak kerja.
Apalagi kalau mulai muncul kata-kata mutiara ''Gusti Allah boten sare'', hahaha....artinya junior (harus ikhlas) kerja rodi, toh dulu senior juga mengalami itu, mo siang malem dapet angpo seiprit, ga usah iri ama yang senior kagak kerja, tapi angpo mengalir lancar, hahaha *bukan mringis lagi ini mah, mrongos!
Jadi pelajaran yang bisa saya petik dari kemarahan sensei kemarin adalah didikan dan teladan, itu ga bisa dipisahkan.
Kenapa kalau anak Jepang itu cukup diberitahu sekali dia akan mengerti, kalaupun mengecewakan, mereka bisa dan akan berulang-ulang minta maaf, tanpa harus membuat sensei marah? Ini tidak lepas dari pendidikan Jepang yang mengedepankan perilaku dan perbuatan sebagai landasan dasar sejak TK, bukan kognitif semata. Dan jangan lupa contoh nyata sehari-harinya juga ada di mana-mana.
Seperti sensei saya, beliau sebagai panutan memberikan contoh yang sepatutnya. Jaman saya sering pulang pagi karena kejar tayang, senseipun demikian.
Lampu ruangannya sering terlihat menyala hingga jam 2 pagi, dan ketika paginya lagi jam 9, beliau sudah di kelas mengajar, itupun masih sempet jogging pagi-pagi...huwaaa lemaaaak mana lemak (lirik tumpukan kaloriku di mana2 _ _!!)
Kerja keras, kebiasaaan dengan tindakan sepele sehari-hari dengan konsisten, bukan nyuruh-nyuruh apalagi ngomel-ngomel (hehehe nyengir sendiri), kalau contohnya udah kaya gitu, boro-boro sempet ngeluh sana-sini, saya cuma sibuk bisa bikin beliau senyum dikit aja, puas dengan kerjaan saya.
Oya, lupa di Jepang itu, Tokyo memang masih pusat acuan, tapi dari sekolah dasar desain dan standar pendidikannya sama sampe ke pelosok desa. Jadi baik perilaku, teknologi maupun kebiasaan dari ujung Jepang atas yang salju berpuluh2 senti kaya Sapporo dan Hokaido sampe ke Kyushu bagian bawah yang agak sumuk itu ya bisa dibilang 11-12 kondisinya, kek desaku ini di Kitakyushu. *ih koreksi, Kitakyushu kagak desa lagi, salah satu pioneer eco-city melek se-Jepang, teknologi penanganan lingkungan juga paling terkenal se-Jepang ada di sini, cuma ya emang kampusku yang super high-tech itu di negara antah berantah,hahaha....
Pegawe pemerintah, juga guru2 termasuk dosen, bisa berputar mengelilingi Jepang, bisa dipromosikan (atau permintaan) sesuai kinerjanya untuk mendorong daerah-daerah yang sekiranya kurang sejajar dengan daerah lain. Jadi pemerataan kualitas di Jepang ini kerasa banget (panjang deh kalo diceritain, mudah2an bisa ditulis lain kali). Kalo masalah gajinya saya sih belum tau,hehehe... mungkin ini ide bagus, kek di Indonesia yang punya 17.502 pulau, 510 kota. kayanya seumur hidup jadi PNS macem saya ini blm tentu bisa mengelilingi semua kota apalagi pulau.
Hmmm.... membayangkan saya pulang dan mengajar lagi, dengan murid yang dididik beragam rupa dari rumah, belum pula sekolah yang amat sangat beragam standarnya. Pernah ditanya jaman nglamar jadi guru dulu, tau gajinya seuprit kerjaan banyak belon makan ati ngurusin anak orang (hihi...halo mahasiswa, jangan suka bikin susah gurunya yahhh) saya jawab, ada 2 jalan yang memiliki kontribusi besar dalam islah. (islah = membuat lebih baik, meningkatkan dari sebelumnya) ini hasil baca buku tapi lupa judulnya,hehehe.... yang pertama dokter, diberi ilmu untuk berhub dengan perbaikan fisik, yang ke dua guru... dengan ilmunya, memberikan pengetahuan untuk perbaikan masa depan. Nah itu alasan utama saya jaman dulu (sampe sekarang sih) mo jadi guru, berhub sudah jelas ga bisa jadi dokter,hahaha.....
Na..guru pun kan banyak ragamnya ga kudu yang resmi kaya saya yang ada capnya. semua orang bisa jadi guru untuk orang lain, begitu juga kita2 juga selalu bisa jadi murid untuk guru manapun.
Yah kudu banyak-banyak belajar psikologi pendidikan biar mumpuni menularkan ke anak didik, ilmu dan etika itu selevel, semakin tinggi ilmu seseorang sudah seharusnya semakin tinggi etikanya (baca: ahlak)
Yang penting, jadi guru itu digugu (diikuti) dan ditiru (dicontoh) apa sudah layak.
Menjelang hari pahlawan: Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Kitakyushu, 5 November 2014
Mulai masuk winter 10derajat tiap pagi
Komentar